PERSOALAN HUKUM PIDANA DAN KRIMINOLOGI DI MASA PANDEMI COVID-19 DIBAHAS MAHUPIKI

Jakarta.   Masyarakat Hukum Pidana dan Kriminologi Indonesia (MAHUPIKI), yaitu sebuah organisasi profesi yang didirikan oleh Guru Besar Hukum Pidana dan Kriminologi Indonesia yang saat ini terdiri dari para akademisi, dan praktisi hukum pidana dan kriminologi, kembali  menggelar Webinar series ke-2 dengan tema: Kebijakan Pembebasan Narapidana. Seminar Nasional kali ini menghadirkan narasumber Menteri Hukum dan HAM RI Prof. Yasonna Hamonangan Laoly, S.H., M.Sc., Ph.D,  kriminolog Universitas Indonesia, Dr. Iqrak Sulhin, M.Si., Dr. Rocky Marbun, S.H., M.H. dosen Universitas Pancasila dan juga hadir sebagai narasumber Ketua MAHUPIKI, Dr. Yenti Garnasih, S.H.,M.H.

Sebelumnya, webinar  seminar nasional series-1 diselenggarakan pada Senin 15 Juni 2020 yang lalu. Webinar Series #1 mengambil tema Street Crime di Masa COVID 19. Tema tersebut diambil untuk menyikapi munculnya kejahatan di masa pandemic, baik dilihat dari perspektif hukum pidana maupun kriminologi.

Ketua MAHUPIKI, Dr. Yenti Garnasih, S.H., M.H. menyampaikan opening speech terkait pemilihan tema-tema webinar series yang  diselenggarakan oleh Mahupiki sejumlah 5 series. Series #1 dengan tema Fenomena Street Crime, tema ini dipilih mengingat saat ini telah 3 bulan lebih Indonesia mengalami kondisi pandemic Covid -19. Hal itu berdampak pada perekonomian, PHK besar-besaran, kehidupan sosial dan budaya serta ada kecenderungan muncul kejahatan jalanan di tengah masa pandemic Covid 19. Oleh karenanya korelasi masalah pandemic yang berdampak munculnya street crime, mulai dari adanya pengangguran baru, kemiskinan baru yang mungkin hal ini sama dengan factor pendorong munculnya street crime pada masa normal. Untuk itu perlu dibahas penanggulangan street crime pada masa pandemic. Apakah ada perspektif baru ataukah masih relevan dengan  cara pandang yang selama ini dilakukan.

Series #1 menghadirkan berbagai pakar hukum pidana dan kriminologi. Prof Harkristuti Harkrisnowo, S.H., M.A., PhD, pakar hukum Pidana Universitas Indonesia, hadir sebagai narasumber pertama yang membahas tentang Kejahatan Jalanan di Masa Pandemi Covid 19. Disampaikan Prof Tuti, demikian sapaan akrab beliau, trend kejahatan di masa pandemic covid 19 tidak mudah disimpulkan telah terjadi kenaikan ataupun penurunan, hal itu disebabkan data tingkat nasional tidak selalu mencerminkan data tingkat wilayah. Kejahatan tertentu yang meningkat di suatu wilayah, di wilayah lain malahan mengalami penurunan. Tingkat dan sebaran kejahatan di wilayah terjadinya kejahatan mencerminkan kondisi dan struktur masyarakat local, karakteristik wilayah serta nilai-nilai setempat. Angka kejahatan yang dilaporkan ke pihak Kepolisian tidak dapat dilepaskan dari kondisi Pandemi Covid 19, dengan demikian kebijakan protocol Covid 19 kemungkinan menurunkan angka kejahatan, namun dapat pula justru meningkatkan kejahatan lain.

Berbagai kebijakan di masa Covid 19 disoroti oleh Prof. Dr. Marcus Priyo Gunarto, S.H., M.Hum, Guru Besar Hukum Pidana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, nara sumber kedua yang melihat Street Crime di Masa Covid 19 dari perspektif Hukum Pidana. Prof Marcus menyampaikan tentang berbagai kebijakan pemerintah, antara lain physical distancing, melarang kegiatan yang bersifat pengumpulan masa/menimbulkan kerumunan, membatasi perpindahan orang dari satu kota ke kota lain, mengkampanyekan agar selalu menggunakan masker, cuci tangan pakai sabun, tetap berdiam di rumah jika tidak ada kepentingan yang sangat memaksa, datang dari wilayah zona merah wajib mengisolasi diri dan kebijakan lain yang menjadi otoritas pemerintah daerah.

Dari perspektif Kriminologi, hadir pula Prof. Dr. Tubagus Ronny Rahman Nitibaskara, yang dalam webinar tempo hari mengangkat judul tentang Penanganan Kejahatan di Masa Pandemi Covid 19 (Suatu Pendekatan Kriminologi Multidisipliner). Sebagai kriminolog dengan pendekatan multidisipliner, tatanan new-normal yang mengiringi pandemi Covid 19 yang akan datang, dapat dipastikan tidak akan bisa mencegah munculnya kejahatan dan penyimpangan khususnya kejahatan jalanan. Upaya mengantisipasinya harus ditangani dengan cara berbeda sebelum wabah Covid 19. Disamping itu, penyusunan tatanan new-normal menghadapi pandemi covid 19 ini juga akan menimbulkan efek lainnya yaitu cara penanganan terhadap kejahatan maupun perilaku menyimpang. Di jaman pandemi covid-19 ini, kejahatan tetap menunjukkan eksistensinya. Hal tersebut justru merupakan wujud normalnya suatu masyarakat. Demikian disampaikan Prof Ronny yang juga dikenal sebagai ahli gesture dan face reading.

Narasumber ke-4, yaitu Dr. Erdianto Effendi, S.H., M.H. menggenapi kebijakan hukum pidana dengan melihat Kejahatan di Masa Pandemi ini, sebagai pemberatan atau pemaafan. Dalam hukum pidana, terdapat kondisi tertentu yang dapat dikategorikan sebagai alasan pembenar ataupun alasan pemaaf sehingga menjadi alasan penghapus pemidanaan. Namun, disisi lain, dalam hukum pidana juga terdapat pasal pemberatan, sebagai contoh pencurian pada waktu ada kebakaran, letusan, banjir, gempa bumi, atau gempa laut, gunung meletus, kapal karam, kapal terdampar, kecelakaan kereta api, huru hara, pemberontakan atau bahaya perang. Dikaitkan dengan kondisi pandemic, apakah mencuri dalam kondisi pandemic dapat digolongkan dalam keadaan darurat? Sedangkan fakta hukum yang terjadi, untuk menanggulangi kondisi perekonomian masyarakat, pemerintah memberikan bantuan berupa bahan pangan ataupun bantuan uang tunai. Pun masyarakat bahu membahu memberikan bantuan kepada yang membutuhkan. Oleh karena itu, kejahatan di masa pandemi, belum tergolong sebagai memenuhi kebutuhan karena lapar, sehingga belum tepat untuk dianggap sebagai darurat.

Webinar Series #1 dimoderatori oleh Dr. Rena Yulia, S.H., M.H., Dosen Hukum Pidana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten. Yang sempat panik karena akan dibaca wajah nya oleh Prof Ronny Nitibaskara di hadapan peserta yang berjumlah 500 orang via Zoom dan 715 orang live streaming facebook. Peserta webinar Mahupiki Series #1 mencapai 1407 pendaftar. Untungnya, sesi pembacaan wajah lewat senyum itu pun tidak terjadi.

(Divisi Humas MAHUPIKI, Rena Yulia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: